Oleh: Muhammad Nasir
anak-anak di tepi jalan bernyanyi:
harum baunya si bunga tanjung
harumnya sampai ke hidung
itulah dia si bunga tanjung
tempat duduk anak yang murung
jika tak siang berhabis hari
matahari tegak tali
bila tak malam berhabis minyak
bulan hanya memandang congkak
tak hendak melantun syair
lihat saja gelanggang yang banyak
anak-anak menadah tangan
bunga tanjung tetap bertahan
seperti anak yang berdiri tegak
berharap lebih dari sekedar makan
itulah di si bunga tanjung
mata lepas badan terkurung
tadah tak lagi sekedar tempurung
mungkin lebih; mencari untung
makilah; tak tahu di untung!
26 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar