Cerpen: Muhammad Nasir
"Sendiri saja ?"
"Ya, aku sendiri. Suamiku sudah dibui"
Datar saja tanpa tonjolan nada yang berarti.
"Andai saja aku tahu bahwa aku tak hamil setelah diperkosa Tonyok, aku tak akan kawin dengannya" Perempuan itu mulai berkata-kata. Tidak ada kesan geram penuh dendam di wajah perempuan itu.
Perempuan itu memperhatikan asesoris yang mengerubuti badankau. Kamera, ID Card, tas kecil. Aku yakin ia telah mengenaliku sebagai wartawan.
“Aku masuk koran lagi?”
“Belum tentu, bisa ya, bisa tidak. Tergantung seberapa menarik kisahnya ”
“Aku Sarni. Kau tentu tahu ada apa denganku. Aku perempuan yang gantung diri tapi tak jadi mati. Suamiku masuk bui, menunggu diadili. Aku pun tahu, bukankah kau orang yang tinggal di ujung gang ini ?“
Dingin sekali caranya memperkenalkan diri.
“Ya, aku memang tinggal di sana. Dan aku adalah wartawan baik-baik, Aku tahu kau adalah perempuan yang merasa takut mendengar sayup-sayup adzan maghrib. Kau bukan setan dan bukan iblis. Kata ustadz, hanya setan laknat yang lari terbirit-birit mendengar adzan.”
“Ya, itu aku!” Saat itu aku dan Tonyok bergulingan. Hijab terbuka, peraturan “syara’ mengenai peraturan hubungan laki-laki perempuan tidak berlaku lagi. Statistik kejahatan laki-laki terhadap perempuan bertambah lagi, itupun kalau tercatat. Langit gelap. Gerimis turun. Sebentar saja magribpun datang bersama gelap. Syafa’ merah pun tidak tampak lagi. Aku menangis bersama gerimis”
Sarni bercerita seperti batu jatuh ke bumi. Pasti dan tanpa ekspresi. Ia terus bercerita, aku hanya mendengar.
"Sejak saat itu aku membenci gerimis. Membenci kegelapan. Setahun bersama Tonyok membuat aku lupa maghrib. Soalnya sederhana saja. Bahwa Aku tidak bisa melaksanakan sholat maghrib bila Tonyok belum makan. Kebiasaan Tonyok keluar malam adalah pada waktu maghrib. Rejeki makhluk malam dimulai waktu maghrib, seiring keluarnya kelelawar menjarah segala yang berbuah. Lebih dari itu aku diperkosa Tonyok diwaktu gerimis dan maghrib"
“Menurut cerita orang-orang kau kawin dengan Tonyok karena kecelakaan, atau tepatnya dicelakai"
“Ya”
“Tonyok adalah laki-laki yang paling kau benci. Kebencianmu jika diukur akan mencapai dua kali bentangan dasar sumur ke ujung langit.”
“Begitulah kira-kira. Celakanya kebencian ini juga yang membuat aku harus kawin dengan Tonyok ”
“Kau bodoh Sarni, setidaknya kau bisa menuntut suamimu”.
“Tidak, aku tidak mau jadi bulan-bulanan hakim, surat kabar, televisi dan entah siapa lagi. Lebih baik aku bekerja untuk sesuap nasi sampai saatnya mati."
Demikian profil Sarni. Setidaknya aku berhasil mengkonfirmasi apa yang aku ketahui tentang perempuan hebat tersebut dengan keserbaapaadanya. Perempuan Hebat?. Mungkin ya. Setahuku, akhir-akhir ini ia sering menjadi headline suratkabar. Aku melihat kehebatannya pada keadaannya yang biasa-biasa saja. Namun ia telah terlanjur menjadi icon, alat verifikasi ketertindasan perempuan di negari ini. Dan yang lebih dahsyat, Sarni bisa bertahan dengan Tonyok -- Suaminya -- tanpa harus ngotot, menuntut keadilan ke Pengadilan Agama seperti pasangan selebriti di televisi. Sekali-lagi…Sarni merasa biasa-biasa saja.
“Baiklah, wartawan. Aku akan bercerita kepadamu tentang daur kesedihan. Kebahagianku bukanlah hal yang layak untuk dipertanyakan. Aku khawatir, wawancaramu tidak berhak masuk koran”
“Oo, ya teruskan, akan ku coba mendengarkan”
****
Tentang maghrib, adalah pertanyaan yang menarik bagiku. Barangkali ini bisa menjadi cerita yang menarik untuk surat kabarku. Aku sudah memutuskan untuk berdalam-dalam masalah Sarni. Entah apa jadinya nanti. Entah berita investigasi atau puisi. Aku kembali mengenang wawancara mendalam siang tadi bersama Sarni.
Sarni bicara seperti sedang berpuisi
"Aku tak berani datang ke surau untuk mengaji,disana banyak ibu-ibu yang tak tahu diri. Seolah tak sadar mereka sedang dinilai ilahi rabbi"
"Oh, Ya ? Teruskan Sarni aku mulai menikmati". Tangan Sarni rajin memetik setiap panci dari dalam almari, lalu melapnya dengan kain. Sejak aku hadir ke rumahnya, baru saat ini aku sadari, setiap barang yang disentuh Sarni menghadir cerita berbulir puisi. Dan ini piring kelima.
"Oleh sebab aku tak punya harta berlian; tak berhak aku duduk di shaf terdepan"
Aku hanya bisa menahan hati, bila aku disuruh mundur ke barisan belakang. Katanya shaf terdepan sudah di "carter" Ibu Tasripan. Ibu Tasripan adalah bendahara arisan. Mereka berkumpul dari pekan-ke pekan. Mulai dari arisan pakaian hingga arisan berlian".
Piring ke lima sudah mengkilap.
"Ini piring yang kupakai untuk jualan. Sekadar pembeli beras untuk makan", terang Sarni seolah tahu yang ingin kutanyakan. Ia mengangkat piring itu ke arah mentari. Entah menyigi, entah sekedar berkaca diri. "Cantik!" katanya tiba-tiba. Ia mengambil kesimpulan untuk diri sendiri.
"Siapa?" Tak sadar, ternyata aku hanyut dan tercekat.
"Aku, aku lebih cantik di banding Nyonya Tasripan. Dan rasanya ia tidak berhak mengusirku dari saf terdepan. "Aku juga berhak berhadapan langsung dengan tuhan".
"Setidaknya kau bisa protes Sarni". Kau bisa katakan, bahwa semua manusia sama di mata tuhan. Dan bukankah saf terdepan merupakan tempat yang patut diperebutkan ?"
"Ya, bagiku dan tidak bagi nyonya Tasripan. Bahkan aku pernah diusir di depan Ustadz Nurzaman. Tetapi ustadz hanya menegur dengan sopan.
Selebihnya ia seakan membenarkan tindakan ibu Tasripan, dan tidak mencoba mempertahankan aku mengambil saf terdepan. Di surau itu, jadilah aku orang kalah tanpa pembelaan. Kecuali tuhan tempat segala pengaduan. Dan aku tak pernah tahu, apakah do’aku dikabulkan. Kenyataannya, sampai saat ini aku tidak pernah mengisi saf terdepan. Bahkan lambat laun aku tak lagi ke surau untuk bertemu tuhan".
Satu piring lagi selesai. Piring itu diletakkan di lantai. Tidak jauh dari tempat aku bersantai. Aku membayangkan betapa beratnya beban Sarni. Sampai di surau pun ia tidak punya tempat. Apa ini tidak termasuk penyakit masyarakat?
Nalarku menjalar. Aku teringat betapa Surau pun kadang tak nyaman bagiku. Aku merasa, surau --- apalagi yang berada di komplek perumahan padat seperti ini --- seakan menjadi milik orang berpangkat atau orang berpunya di masyarakat. Kelas-kelas masyarakat seperti disitir Marx ternyata juga ada di surau. Tapi ini tentu tidak pada semua surau. Paling tidak sejauh yang kutemui, selalu saja ada pembeda di rumah suci ini. Sebelum menjadi wartawan, aku pernah menjadi garin di surau. Saf terdepan laki-laki diisi oleh pengurus surau. Yang lain seolah tahu diri. Lima orang dibelakang Imam pada saf pertama, kalau tidak pengurus surau, ya… pak haji, atau orang terpandang di komplek ini.
"Apa kau tidak termasuk orang yang disantuni, Sarni? Maksudku disedekahi atau diberi zakat fitrah di Idul Fitri?"
"Ya, kadang-kadang aku menerimanya. Tetapi tidak dari surau ini. Dari pribadi-pribadi yang peduli. Aku tidak tahu kenapa jama’ah jadi begini. Mereka tak memberiku zakat karena aku jarang hadir ke surau"
"Kenapa? tanyaku. Aku merasa perlu bertanya. Dua tahun lalu, akulah yang menjadi garin di surau yang dimaksud Sarni. Ya. Di komplek ini. Aku memang jarang melihat Sarni shalat berjama’ah di surau, apalagi ikut wirid mengaji.
"Aku hanya bisa ke surau di waktu maghrib. Aku pergi di waktu fajar. Menjual lontong untuk penghuni pasar. Pulangku setelah Ashar. Kau tadi bertanya, kenapa aku takut mendengar azan maghrib. Aku dianiya Tonyok diwaktu maghrib. Saat itu seorangpun tak hendak menolong aku yang sedang terhimpit. Dan akupun tahu, di surau ini aku tidak dipandang sebagi orang. Jadi aku jawab, bukan aku membenci maghrib, tetapi waktu maghrib sering memberiku kenangan suram. Bila Maghrib datang aku harus melayani Tonyok yang hendak gentayangan. Mau ke surau, aku sudah terlambat. Di suraupun tak nyaman. Aku tidak bisa bersedekah, meski untuk kotak yang menerima recehan. Ibu-ibu itu selalu melecehkan. Mereka bersedekah dengan angka ribuan. Recehanku mereka singkirkan, tidak masuk hitungan.
"Kasihan!" Itu saja yang bisa ku katakan. Sewaktu menjadi garin, recehan itu aku yang kumpulkan. Setalah beberapa bulan recehan itu kutukarkan. Jumlahnya tentu sudah ribuan. Ketika ku setor ke pengurus surau, mereka mengembalikan. "Sudahlah, ambil untukmu saja, hitung-hitung tambahan gaji bulanan," demikian kata pengurus surau. Jadi kesimpulannya, sedekah recehan Sarni itu aku yang makan. Ya tuhan…
Aku mencatat semua curahan kata Sarni. Yang jelas,bagian sedekah recehan itu tidak akan ku tulis sebagai berita di koran.
"Tuan wartawan, apalagi yang akan kau pertanyakan?"
Aku gelagapan. "Ya..terus, apa lagi yang akan kau ceritakan? Aku akan dengarkan, dan kutulis di buku catatan. (Aku mulai mencatat untuk ku masukkan ke koran dan untukku sebagai bahan renungan).
"Sehari-hari, sepulang dari pasar kerjaku mencuci. Termasuk mencuci celana dalam suami. Oh ya, kau boleh menulis dengan sedikit penekanan pada bagian ini." Sarni mengambil piring ke tujuh dan berbalik. Ia sedikit berharap agar aku lebih perhatian pada bagian ini.
"Apa istimewanya? Mencuci celana dalam suami? Bukankah itu biasa?" Aku berusaha meraba-raba.
"Tonyok itu penjudi. Uang yang aku dapatkan dari jualan, kadang-kadang ia minta untuk modal berjudi. Ia memang punya uang sendiri. Di pangkalan ojek gang ini, ia minta persenan. Maklum, ia setengah preman."
"Apa hubungannya dengan celana dalam?"
"Memang tidak ada hubungan secara langsung. Tetapi bagiku sangat mengesankan. Kau tahu celana dalam tonyok itu sangat bau. Basah peluh. Aku memperkirakan, semalaman, ia duduk dibangku judi. Apalagi bila ia kalah berkali-kali. Ia akan betah main sampai pagi. Seketika aku mual saat mencuci, mual ketika mencium bau celana dalam itu karena asyik berjudi. Bagiku, celana dalam tonyok itu identik dengan judi."
Aku baru ingat, sejauh ini masalah judi baru sebatas umpatan di khutbah jum’at. Atau komoditas tokoh masyarakat. Tak jarang judi itu dibekingi aparat. Termasuk Tonyok yang aku lihat, terlihat akrab dengan aparat, di meja judi, di beberapa tempat. Aku ingat! Aku ingat! Aku mengangguk-angguk.
Sarni menaruh piring dan mengambil mangkuk.
"Lantas, kenapa Tonyok sampai di bui?"
"Hey, bukankah sudah kau baca di koran?" Sarni heran.
"Ya, sudah. Tapi tolong jelaskan, bisa saja ceritamu berlainan dengan di koran!"
"Persis! Memang beda dengan cerita di koran. Aku tak tahu mengapa demikian," Sarni seperti menyesalkan.
"Sepertinya Tonyok memaksaku untuk menjadi pelacur. Aku tidak tahu mengapa demikian. Tiba-tiba saja seorang pria telah ada di rumahku, sore itu sepulang aku dari pasar. Kehadirannya tidak aku acuhkan. Soalnya Tonyok biasa membawa teman. Tonyok, pergi begitu saja. Tinggallah aku sendirian. Singkat cerita, pria itu berusaha menyeduh kopi di tabung maduku. Aku berteriak maling, rampok. Kebetulan saja ada patroli polisi lewat di depan rumah. Pria itu tak mengaku sebagai malaing. Mana ada maling yang mau mengaku. Ia hanya mengambil haknya. Ia telah bayar pada Tonyok suamiku. Makanya pria itu dan Tonyok di gelandang ke kantor polisi. Begitu ceritanya. Biasa saja kan?"
Sarni bercerita tanpa ekspresi. Panjang lebar seperti rel kereta api.
Aku merenung tentang apa yang akan kutulis nanti. Perenunganku ini sejalan dengan heningnya suasana.
"Eh, apakah ini akan dikorankan?" Tanya Sarni
"Iya, kalau memungkinkan"
"Ini kan peristiwa biasa? Di mana-mana juga sering terjadi. Saya sering baca juga" komentarnya.
Hanya senyum dariku untuk Sarni.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu. Maukah kau merahasiakannya?"
Apakah gerangan? pikirku. Jangan-jangan ini berita sesungguhnya. Dasar, sudah tahu ia minta dirahasiakan, aku masih berkenan menjadikannya berita.
"Silakan, aku simpan sebisanya" jawabku meyakinkannya meski dengan ekspresi kurang meyakinkan.
Sarni berdiri menuju jendela. Memegang jeruji seperti perempuan pingitan. Terpenjara orang tua.
"Tadi aku sudah katakan, andai saja aku tahu, aku tak hamil setelah diperkosa Tonyok, aku tak akan kawin dengannya. Tonyok yal menginginkan anak di rumah ini!" akupun sepertinya tak ingin Tonyok menjadi bapak bagi anak-anakku.
"Haa? Itu penting diberitakan, Sarni. Agar perempuan yang senasib denganmu tak buru-buru nikah. Bukankah MUI membolehkan aborsi sebelum janin berusia empatpuluh hari?"
"Terserah kau lah. Sekarang kau boleh pulang. Wawancara kuanggap selesai"
Suasana itu memaksaku pergi dari rumah Sarni
***
"Kau bawa berita apa?" Pria tanpa wajah yang kami sebut korlip itu bertanya seperti biasa. Tanpa pernah melihat wajah kami cecunguk pemburu berita. Seperti biasa, akupun tak perlu menjawab apa-apa. Kecuali menyodorkan flash disk.
Beberapa saat, tuan korlip tak berkedip membaca tulisanku.
"Sudahlah, kau tak layak jadi wartawan. Yang kau tulis itu cerita biasa dan ada di mana-mana. Cerita ini untuk apa?" Untuk menguras air mata atau murka para pembaca?"
Blek!!! Tiba-tiba dinding kamar korlip yang pengap itu berubah jadi layar tancap. Di dinding itu tertulis ungkapan Sarni di akhir wawancara.
"Ini kan peristiwa biasa? Di mana-mana juga sering terjadi!"
"Maaak....!!!"
Aku mengenangnya. Mengenang peristiwa yang pada akhirnya hanya kenang-kenangan semasa menjalani masa kemanusiaan.
Ah, Apakah saja di dunia ini yang boleh diketahui? Sekilas masalah ini konyol dan menggelikan. Betapa banyak orang yang mengingkari pengetahuan atau meragukan pengetahuan.
Aku teringat bapak kaum sophis Georgias; "Segala sesuatu tidak ada. Jika adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahui, maka tidak bisa diinformasikan."
***
Tiga bulan berlalu, Sarni seperti hilang dalam ingatanku. Sepucuk undangan yang ditujukan kepadaku; Mohon Meliput Acara. Itu dari Koalisi Perempuan Melawan Kekerasan. Acaranya diskusi film dokumenter dan kesaksian sang saksi.
Setengah jam saja yang aku butuhkan sudah membawa pantatku di kursi rotan milik LSM wanita itu. Layar infocus menghadirkan suasana muram. Satu titik hitam berjalan lamban. Ketika membesar menjadi sosok Sarni. Kesalahan dalam akal dan indra terlalu pilih kasih. Uang memperkosa ingatan orang banyak.
Perempuan itu akhirnya hanya menjadi narasi sunyi pena dan mulut-mulut cantik pegiat LSM.
Padang, Januari 2007
"Sendiri saja ?"
"Ya, aku sendiri. Suamiku sudah dibui"
Datar saja tanpa tonjolan nada yang berarti.
"Andai saja aku tahu bahwa aku tak hamil setelah diperkosa Tonyok, aku tak akan kawin dengannya" Perempuan itu mulai berkata-kata. Tidak ada kesan geram penuh dendam di wajah perempuan itu.
Perempuan itu memperhatikan asesoris yang mengerubuti badankau. Kamera, ID Card, tas kecil. Aku yakin ia telah mengenaliku sebagai wartawan.
“Aku masuk koran lagi?”
“Belum tentu, bisa ya, bisa tidak. Tergantung seberapa menarik kisahnya ”
“Aku Sarni. Kau tentu tahu ada apa denganku. Aku perempuan yang gantung diri tapi tak jadi mati. Suamiku masuk bui, menunggu diadili. Aku pun tahu, bukankah kau orang yang tinggal di ujung gang ini ?“
Dingin sekali caranya memperkenalkan diri.
“Ya, aku memang tinggal di sana. Dan aku adalah wartawan baik-baik, Aku tahu kau adalah perempuan yang merasa takut mendengar sayup-sayup adzan maghrib. Kau bukan setan dan bukan iblis. Kata ustadz, hanya setan laknat yang lari terbirit-birit mendengar adzan.”
“Ya, itu aku!” Saat itu aku dan Tonyok bergulingan. Hijab terbuka, peraturan “syara’ mengenai peraturan hubungan laki-laki perempuan tidak berlaku lagi. Statistik kejahatan laki-laki terhadap perempuan bertambah lagi, itupun kalau tercatat. Langit gelap. Gerimis turun. Sebentar saja magribpun datang bersama gelap. Syafa’ merah pun tidak tampak lagi. Aku menangis bersama gerimis”
Sarni bercerita seperti batu jatuh ke bumi. Pasti dan tanpa ekspresi. Ia terus bercerita, aku hanya mendengar.
"Sejak saat itu aku membenci gerimis. Membenci kegelapan. Setahun bersama Tonyok membuat aku lupa maghrib. Soalnya sederhana saja. Bahwa Aku tidak bisa melaksanakan sholat maghrib bila Tonyok belum makan. Kebiasaan Tonyok keluar malam adalah pada waktu maghrib. Rejeki makhluk malam dimulai waktu maghrib, seiring keluarnya kelelawar menjarah segala yang berbuah. Lebih dari itu aku diperkosa Tonyok diwaktu gerimis dan maghrib"
“Menurut cerita orang-orang kau kawin dengan Tonyok karena kecelakaan, atau tepatnya dicelakai"
“Ya”
“Tonyok adalah laki-laki yang paling kau benci. Kebencianmu jika diukur akan mencapai dua kali bentangan dasar sumur ke ujung langit.”
“Begitulah kira-kira. Celakanya kebencian ini juga yang membuat aku harus kawin dengan Tonyok ”
“Kau bodoh Sarni, setidaknya kau bisa menuntut suamimu”.
“Tidak, aku tidak mau jadi bulan-bulanan hakim, surat kabar, televisi dan entah siapa lagi. Lebih baik aku bekerja untuk sesuap nasi sampai saatnya mati."
Demikian profil Sarni. Setidaknya aku berhasil mengkonfirmasi apa yang aku ketahui tentang perempuan hebat tersebut dengan keserbaapaadanya. Perempuan Hebat?. Mungkin ya. Setahuku, akhir-akhir ini ia sering menjadi headline suratkabar. Aku melihat kehebatannya pada keadaannya yang biasa-biasa saja. Namun ia telah terlanjur menjadi icon, alat verifikasi ketertindasan perempuan di negari ini. Dan yang lebih dahsyat, Sarni bisa bertahan dengan Tonyok -- Suaminya -- tanpa harus ngotot, menuntut keadilan ke Pengadilan Agama seperti pasangan selebriti di televisi. Sekali-lagi…Sarni merasa biasa-biasa saja.
“Baiklah, wartawan. Aku akan bercerita kepadamu tentang daur kesedihan. Kebahagianku bukanlah hal yang layak untuk dipertanyakan. Aku khawatir, wawancaramu tidak berhak masuk koran”
“Oo, ya teruskan, akan ku coba mendengarkan”
****
Tentang maghrib, adalah pertanyaan yang menarik bagiku. Barangkali ini bisa menjadi cerita yang menarik untuk surat kabarku. Aku sudah memutuskan untuk berdalam-dalam masalah Sarni. Entah apa jadinya nanti. Entah berita investigasi atau puisi. Aku kembali mengenang wawancara mendalam siang tadi bersama Sarni.
Sarni bicara seperti sedang berpuisi
"Aku tak berani datang ke surau untuk mengaji,disana banyak ibu-ibu yang tak tahu diri. Seolah tak sadar mereka sedang dinilai ilahi rabbi"
"Oh, Ya ? Teruskan Sarni aku mulai menikmati". Tangan Sarni rajin memetik setiap panci dari dalam almari, lalu melapnya dengan kain. Sejak aku hadir ke rumahnya, baru saat ini aku sadari, setiap barang yang disentuh Sarni menghadir cerita berbulir puisi. Dan ini piring kelima.
"Oleh sebab aku tak punya harta berlian; tak berhak aku duduk di shaf terdepan"
Aku hanya bisa menahan hati, bila aku disuruh mundur ke barisan belakang. Katanya shaf terdepan sudah di "carter" Ibu Tasripan. Ibu Tasripan adalah bendahara arisan. Mereka berkumpul dari pekan-ke pekan. Mulai dari arisan pakaian hingga arisan berlian".
Piring ke lima sudah mengkilap.
"Ini piring yang kupakai untuk jualan. Sekadar pembeli beras untuk makan", terang Sarni seolah tahu yang ingin kutanyakan. Ia mengangkat piring itu ke arah mentari. Entah menyigi, entah sekedar berkaca diri. "Cantik!" katanya tiba-tiba. Ia mengambil kesimpulan untuk diri sendiri.
"Siapa?" Tak sadar, ternyata aku hanyut dan tercekat.
"Aku, aku lebih cantik di banding Nyonya Tasripan. Dan rasanya ia tidak berhak mengusirku dari saf terdepan. "Aku juga berhak berhadapan langsung dengan tuhan".
"Setidaknya kau bisa protes Sarni". Kau bisa katakan, bahwa semua manusia sama di mata tuhan. Dan bukankah saf terdepan merupakan tempat yang patut diperebutkan ?"
"Ya, bagiku dan tidak bagi nyonya Tasripan. Bahkan aku pernah diusir di depan Ustadz Nurzaman. Tetapi ustadz hanya menegur dengan sopan.
Selebihnya ia seakan membenarkan tindakan ibu Tasripan, dan tidak mencoba mempertahankan aku mengambil saf terdepan. Di surau itu, jadilah aku orang kalah tanpa pembelaan. Kecuali tuhan tempat segala pengaduan. Dan aku tak pernah tahu, apakah do’aku dikabulkan. Kenyataannya, sampai saat ini aku tidak pernah mengisi saf terdepan. Bahkan lambat laun aku tak lagi ke surau untuk bertemu tuhan".
Satu piring lagi selesai. Piring itu diletakkan di lantai. Tidak jauh dari tempat aku bersantai. Aku membayangkan betapa beratnya beban Sarni. Sampai di surau pun ia tidak punya tempat. Apa ini tidak termasuk penyakit masyarakat?
Nalarku menjalar. Aku teringat betapa Surau pun kadang tak nyaman bagiku. Aku merasa, surau --- apalagi yang berada di komplek perumahan padat seperti ini --- seakan menjadi milik orang berpangkat atau orang berpunya di masyarakat. Kelas-kelas masyarakat seperti disitir Marx ternyata juga ada di surau. Tapi ini tentu tidak pada semua surau. Paling tidak sejauh yang kutemui, selalu saja ada pembeda di rumah suci ini. Sebelum menjadi wartawan, aku pernah menjadi garin di surau. Saf terdepan laki-laki diisi oleh pengurus surau. Yang lain seolah tahu diri. Lima orang dibelakang Imam pada saf pertama, kalau tidak pengurus surau, ya… pak haji, atau orang terpandang di komplek ini.
"Apa kau tidak termasuk orang yang disantuni, Sarni? Maksudku disedekahi atau diberi zakat fitrah di Idul Fitri?"
"Ya, kadang-kadang aku menerimanya. Tetapi tidak dari surau ini. Dari pribadi-pribadi yang peduli. Aku tidak tahu kenapa jama’ah jadi begini. Mereka tak memberiku zakat karena aku jarang hadir ke surau"
"Kenapa? tanyaku. Aku merasa perlu bertanya. Dua tahun lalu, akulah yang menjadi garin di surau yang dimaksud Sarni. Ya. Di komplek ini. Aku memang jarang melihat Sarni shalat berjama’ah di surau, apalagi ikut wirid mengaji.
"Aku hanya bisa ke surau di waktu maghrib. Aku pergi di waktu fajar. Menjual lontong untuk penghuni pasar. Pulangku setelah Ashar. Kau tadi bertanya, kenapa aku takut mendengar azan maghrib. Aku dianiya Tonyok diwaktu maghrib. Saat itu seorangpun tak hendak menolong aku yang sedang terhimpit. Dan akupun tahu, di surau ini aku tidak dipandang sebagi orang. Jadi aku jawab, bukan aku membenci maghrib, tetapi waktu maghrib sering memberiku kenangan suram. Bila Maghrib datang aku harus melayani Tonyok yang hendak gentayangan. Mau ke surau, aku sudah terlambat. Di suraupun tak nyaman. Aku tidak bisa bersedekah, meski untuk kotak yang menerima recehan. Ibu-ibu itu selalu melecehkan. Mereka bersedekah dengan angka ribuan. Recehanku mereka singkirkan, tidak masuk hitungan.
"Kasihan!" Itu saja yang bisa ku katakan. Sewaktu menjadi garin, recehan itu aku yang kumpulkan. Setalah beberapa bulan recehan itu kutukarkan. Jumlahnya tentu sudah ribuan. Ketika ku setor ke pengurus surau, mereka mengembalikan. "Sudahlah, ambil untukmu saja, hitung-hitung tambahan gaji bulanan," demikian kata pengurus surau. Jadi kesimpulannya, sedekah recehan Sarni itu aku yang makan. Ya tuhan…
Aku mencatat semua curahan kata Sarni. Yang jelas,bagian sedekah recehan itu tidak akan ku tulis sebagai berita di koran.
"Tuan wartawan, apalagi yang akan kau pertanyakan?"
Aku gelagapan. "Ya..terus, apa lagi yang akan kau ceritakan? Aku akan dengarkan, dan kutulis di buku catatan. (Aku mulai mencatat untuk ku masukkan ke koran dan untukku sebagai bahan renungan).
"Sehari-hari, sepulang dari pasar kerjaku mencuci. Termasuk mencuci celana dalam suami. Oh ya, kau boleh menulis dengan sedikit penekanan pada bagian ini." Sarni mengambil piring ke tujuh dan berbalik. Ia sedikit berharap agar aku lebih perhatian pada bagian ini.
"Apa istimewanya? Mencuci celana dalam suami? Bukankah itu biasa?" Aku berusaha meraba-raba.
"Tonyok itu penjudi. Uang yang aku dapatkan dari jualan, kadang-kadang ia minta untuk modal berjudi. Ia memang punya uang sendiri. Di pangkalan ojek gang ini, ia minta persenan. Maklum, ia setengah preman."
"Apa hubungannya dengan celana dalam?"
"Memang tidak ada hubungan secara langsung. Tetapi bagiku sangat mengesankan. Kau tahu celana dalam tonyok itu sangat bau. Basah peluh. Aku memperkirakan, semalaman, ia duduk dibangku judi. Apalagi bila ia kalah berkali-kali. Ia akan betah main sampai pagi. Seketika aku mual saat mencuci, mual ketika mencium bau celana dalam itu karena asyik berjudi. Bagiku, celana dalam tonyok itu identik dengan judi."
Aku baru ingat, sejauh ini masalah judi baru sebatas umpatan di khutbah jum’at. Atau komoditas tokoh masyarakat. Tak jarang judi itu dibekingi aparat. Termasuk Tonyok yang aku lihat, terlihat akrab dengan aparat, di meja judi, di beberapa tempat. Aku ingat! Aku ingat! Aku mengangguk-angguk.
Sarni menaruh piring dan mengambil mangkuk.
"Lantas, kenapa Tonyok sampai di bui?"
"Hey, bukankah sudah kau baca di koran?" Sarni heran.
"Ya, sudah. Tapi tolong jelaskan, bisa saja ceritamu berlainan dengan di koran!"
"Persis! Memang beda dengan cerita di koran. Aku tak tahu mengapa demikian," Sarni seperti menyesalkan.
"Sepertinya Tonyok memaksaku untuk menjadi pelacur. Aku tidak tahu mengapa demikian. Tiba-tiba saja seorang pria telah ada di rumahku, sore itu sepulang aku dari pasar. Kehadirannya tidak aku acuhkan. Soalnya Tonyok biasa membawa teman. Tonyok, pergi begitu saja. Tinggallah aku sendirian. Singkat cerita, pria itu berusaha menyeduh kopi di tabung maduku. Aku berteriak maling, rampok. Kebetulan saja ada patroli polisi lewat di depan rumah. Pria itu tak mengaku sebagai malaing. Mana ada maling yang mau mengaku. Ia hanya mengambil haknya. Ia telah bayar pada Tonyok suamiku. Makanya pria itu dan Tonyok di gelandang ke kantor polisi. Begitu ceritanya. Biasa saja kan?"
Sarni bercerita tanpa ekspresi. Panjang lebar seperti rel kereta api.
Aku merenung tentang apa yang akan kutulis nanti. Perenunganku ini sejalan dengan heningnya suasana.
"Eh, apakah ini akan dikorankan?" Tanya Sarni
"Iya, kalau memungkinkan"
"Ini kan peristiwa biasa? Di mana-mana juga sering terjadi. Saya sering baca juga" komentarnya.
Hanya senyum dariku untuk Sarni.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu. Maukah kau merahasiakannya?"
Apakah gerangan? pikirku. Jangan-jangan ini berita sesungguhnya. Dasar, sudah tahu ia minta dirahasiakan, aku masih berkenan menjadikannya berita.
"Silakan, aku simpan sebisanya" jawabku meyakinkannya meski dengan ekspresi kurang meyakinkan.
Sarni berdiri menuju jendela. Memegang jeruji seperti perempuan pingitan. Terpenjara orang tua.
"Tadi aku sudah katakan, andai saja aku tahu, aku tak hamil setelah diperkosa Tonyok, aku tak akan kawin dengannya. Tonyok yal menginginkan anak di rumah ini!" akupun sepertinya tak ingin Tonyok menjadi bapak bagi anak-anakku.
"Haa? Itu penting diberitakan, Sarni. Agar perempuan yang senasib denganmu tak buru-buru nikah. Bukankah MUI membolehkan aborsi sebelum janin berusia empatpuluh hari?"
"Terserah kau lah. Sekarang kau boleh pulang. Wawancara kuanggap selesai"
Suasana itu memaksaku pergi dari rumah Sarni
***
"Kau bawa berita apa?" Pria tanpa wajah yang kami sebut korlip itu bertanya seperti biasa. Tanpa pernah melihat wajah kami cecunguk pemburu berita. Seperti biasa, akupun tak perlu menjawab apa-apa. Kecuali menyodorkan flash disk.
Beberapa saat, tuan korlip tak berkedip membaca tulisanku.
"Sudahlah, kau tak layak jadi wartawan. Yang kau tulis itu cerita biasa dan ada di mana-mana. Cerita ini untuk apa?" Untuk menguras air mata atau murka para pembaca?"
Blek!!! Tiba-tiba dinding kamar korlip yang pengap itu berubah jadi layar tancap. Di dinding itu tertulis ungkapan Sarni di akhir wawancara.
"Ini kan peristiwa biasa? Di mana-mana juga sering terjadi!"
"Maaak....!!!"
Aku mengenangnya. Mengenang peristiwa yang pada akhirnya hanya kenang-kenangan semasa menjalani masa kemanusiaan.
Ah, Apakah saja di dunia ini yang boleh diketahui? Sekilas masalah ini konyol dan menggelikan. Betapa banyak orang yang mengingkari pengetahuan atau meragukan pengetahuan.
Aku teringat bapak kaum sophis Georgias; "Segala sesuatu tidak ada. Jika adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahui, maka tidak bisa diinformasikan."
***
Tiga bulan berlalu, Sarni seperti hilang dalam ingatanku. Sepucuk undangan yang ditujukan kepadaku; Mohon Meliput Acara. Itu dari Koalisi Perempuan Melawan Kekerasan. Acaranya diskusi film dokumenter dan kesaksian sang saksi.
Setengah jam saja yang aku butuhkan sudah membawa pantatku di kursi rotan milik LSM wanita itu. Layar infocus menghadirkan suasana muram. Satu titik hitam berjalan lamban. Ketika membesar menjadi sosok Sarni. Kesalahan dalam akal dan indra terlalu pilih kasih. Uang memperkosa ingatan orang banyak.
Perempuan itu akhirnya hanya menjadi narasi sunyi pena dan mulut-mulut cantik pegiat LSM.
Padang, Januari 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar