Oleh: Muhammad Nasir
dipagut kelam
hitam itu seonggok ban bekas;hanya
tak lebih lima saja, sebanyak jari setiap sisi
hitam itu; akan hilang bersama malam
tapi masih terus di sana selama tak ada pengambilnya
hanya; ia dipagut kelam saja
karena memang hitam legam corak langgamnya
hitam itu seonggok ban bekas;hanya
di kaki pohon tanjung
bersyair sendir; nyanyi liberal pada definisi yang binal
oral;oral;oral
mencari kepastian, menjenguk kedalamnnya
kertas koran, puntung rokok dan
tentu saja dedaunan dan bunga tanjung
mengisi hitam
tenggelam di kedalaman kelam
ada pikir dan akar yang jungkir balik
hasrat hanya menyentuh dedaunan yang rontok
harum tinggal di telunjuk
puntung sengit angit menyebalkan
kulit kuaci yang bau kencing
kondim bekas? menyentuhpun aku malas
dan ini terhampar di koran bekas
mencuci dari anu ke anu
melepas hitam
seperti jerawat masa transisi
liberalisme tak pernah mati
katanya; "akal akan mati lelah!"
kemudian mencari celah menuju allah
ampas hitam
pohon tanjung memeluk ban bekas
menunggu ampas tanpa sudi berpikir
mati akal; terserah semua, masuk sajalah
dasar sampah, tak perlu serapah
pasrah hitam
bersyairlah si pohon tanjung
mau kering, keringlah tak berdarah
mau patah, patahlah, roboh, robohlah
namun bila rebah, pasrahlah
mati hitam
kodokpun akan hinggap pabila rebah
anjingpun akan kencing di sini
sebagaimana anak remaja yang pacaran malam tadi
kondom latex berserakan di kaki
tidak hitam
dan tetapi tidak!
dulu kering sekarang hujan
dulu patah, sekarang tumbuh;mekarlah
dulu berharap rubuh tubuh, sekarang tegak;gagahilah
pohon tanjung tetap anggun berdiri
tetap hitam
kodokpun masih parkir di sini
remaja masih pacaran di sini
nyabupun boleh di sini
hanya saja tak seorangpun peduli
seperti tak patut dicurigai
hitam masih tetap di sini
memagut kelam kekasihnya
(20/11/06)
26 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar