25 Juni 2008

mimpi kartinipun berakhir

Oleh: Muhammad Nasir

(I)
dulu ceritanya tentang kartini dan perempan berkemben. menunduk-nunduk rikuk di keramaian. Tinggalkan tangis bayi di rumah. Pergi madi dan mencuci di kali. Begitu pulang menyandang air di dandang. Kartini merasa malang, tak bebas di alam lapang.
Dan dulu juga, ceritanya tentang wanita yang dikebiri, di puri dan rumah-rumah para bupati. Eksploitasi tak cukup sepenanakan nasi. Air mendidihpun untuk melayani pembesar negeri. Kartini merasa resah dan ngeri. Mau jadi apa perempuan ini?
Sekarang tentang debu-debu yang ditiup angin adalah sempalan cerita-cerita tentang permpuan kita. Darah yang mengalir di tubuhnya adalah darahdarah anak manusia yang bisa tumpah di mana saja. Perempuan yang seperti itu bisa hinggap di mata mana saja, dan seluruh dunia.
angin yang tak berkelamin menghembus lara. Tubuh-tubuh yang terbuka adalah suatu yang biasa. Seperti angin, pun wanita bisa kemana saja. Berdagang komoditas tubuh dan wacana hampa [pornografi]. daging-daging itu menemukan harganya!
Kartini dan wanita sekolahan, adalah kumpulan manusia dari taman kanak-kanak hingga profesor. Matinyapun sama, dimakan cacing. Yang sehat dan yang sakit. Yang bejat dan laknat. Yang baik dan teramat baik. Kartini yang baik dan teramat baik. Idenya yang cantik
Kini kartini dan wanita penambah semangat. Dipakai bila terasa kuat dan dipecat pabila cekat. Angin bertiup di sela kebaya.kartini berakhir bersama takdir. Tak ada lagi kartini kecuali hanya daging dan kumpulan aurat.
291106

Tidak ada komentar: