Oleh: Muhammad Nasir
Ahh…
Aku masih ingat, 17.56 angka yang tertera di layar HP
Gubraggubraggubrag…suara yang tidak indah
Tak ada lagi tanda dari ayam-ayam yang berterbangan
Semua dengan sukarela sudah dimusnahkan
Dipatahkan lehernya, dibakar dan dijebloskan ke lobang panas
Tak ada kelelawar yang beterbangan, tak ada, tak kelihatan
Tapi pekik itu melejit setinggi langit yang merah saga
Orang orang melayang-layang seolah melepas bobotnya
Berjatuhan dan bangkit lagi laksana mabuk
Gubraggubraggubrag…
Plester semen itu melepaskan semennya
Luruh sudah semangat anak zaman, yang tadinya beringas
Meludahi zaman yang tak lagi suci dari cita-cita negeri
Dan sesaat saja ada yang mati, ya, mati! Pasti!
Gubraggubraggubrag…
Suara yang tak indah itu tak segera hilang dari ingatan
Meski berjuta ungkapan simpatik berlompatan
Dari mulut-mulut yang terbiasa mencibir maut
Dan menurut mereka, itulah kata terindah
Yang mereka lombakan pada sayembara berdarah itu
Tapi cukupkah itu menolak duka?
Semua pembesar negeri berlomba-lomba memberi ucapan,
seolah itulah obat yang paling mempan bagi korban-korban
yang terombang ambing di tanah yang mendadak terban
oh, berlomba-lomba
bantuan-bantuan memang berdatangan
dari kiri, kanan dan dari mana saja
hanya saja, ungkapan-ungkapan dan bantuan itu
menuntut pamrih yang tak sedikit, yaitu julukan pahlawan
berbagai atribut yang mereka gunakan berujung ke tahun 2009
akulah relawan, akulah pahlawan
bumi gonjang ganjing
menyebut nasib yang tak pernah seiring
dengan tulang yang hampir mengering
Gubraggubraggubrag…
Bumi telah memecahkan piring-piring
Di manakah lagi nasi berlauk daging dan puing-puing?
13 September 2007
25 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar