14 September 2019

episode kehadiran


episode kehadiran
muhammad nasir

- sebelum berkata-kata

sesukamulah untuk mengatakan aku manusia, selebihnya engkau ular, biawak, buaya dan segenap yang melata. tugasku hanya bercerita tentang episode kehadiran yang menjadikanku manusia

- episode kelahiran

tak angin pula yang menyebar benih pada waktu yang tak berpori-pori. rasa sayang itu tak sudi terbang pada udara yang rekah

mata jua yang luluhkan rasa dalam-dalam. daging itu tumbuh dan terbenam pada pusaran kehidupan

berharaplah pada tanah, air, darah dan bongkahan daging. katakan saja; tak tersebab pada dirimu, tak juga atas nama  senggama segala apa!

angin berpilin tak beraturan, malam yang tak bertabir mengeluarkan lenguh kepanasan. hasil perkawinan resmi manusia pertama melahirkan aku pada lelehan yang ke sekian

lahirlah aku pada sakit terbaikmu!

-  menjadi kanak-kanak

dalam penjara yang dibuat oleh orang dewasa, tanah ini menjadi teramat sempit
diserakahi nafsu sebagai mata uang yang tak bermata.

menangis adalah cara yang terbaik bila semua tak dapat dipenuhi. biarkan angin menyapu setiap helai bulu mata yang lembab

jika telapak kaki hanya goresan hambar
maka anak-anak hanya bermain sesukanya

- alam pancaroba

katakanlah aku manusia, selebihnya engkau

aku hanyalah urutan-urutan kekinian. temukan saja aku pada otak-otak yang menalar liar

sedang engkau aku temukan itu pada daftar di alam yang tak lebar. Padahal  lendir itu telah menutupi lembah tanpa dasar. lendir-lendir itulah tumpahan sejarah

- tiba-tiba menjadi manusia

beberapa waktu yang tidak sedikit telah berlalu. lahir, tumbuh, berkembang, kerdil,
sesekali membesar, mengkerut lalu jadilah  seperti itu

dan tak ku ikuti kejadian itu kecuali aku mengerti. hidra mengisi otak kecilku merekam detik-demi detik menjadi kronik.

setiap denyut pada otak kanaku adalah nama. setiap nyalang adalah ruang-ruang lapang. otak yang mulai bebal menerawang.


ahai, ibarat kain buruk pada layar lanun tua. angin tak pernah menyapanya pada laut lepas yang amat luas

lembaran ingatanku berlayar tanpa lakon, tanpa narasi dan  juga tanpa durasi

- kembali menjadi lendir

dan pada senggama yang kesekian, jejeritan nyeri para ibu, membawaku pada kematian. sedikit ayang dapat kukatakan;
aku hanya percikan dari perjalanan letih lendir itu hingga beku di segenap sendiku.

lalu bagaimana aku menyebutnya sejarah?
lendir itu pada akhirnya menjadi kata-kata
kata-kata itu menjadi logika.

katakanlah aku manusia, selebihnya engkau, ular, biawak, buaya dan segenap yang melata

parakjigarang, 22/12/09


Tidak ada komentar: