Cerpen: Muhammad Nasir
Kota Kaleyen adalah kota cebol, sekaligus ibukota kabupaten yang namanya kebetulan sama; Kaleyen juga. Kabupaten Kaleyen. Ibukota Kaleyen. Begitulah. Di peta propinsi, luasnya tidak lebih se ibu jari. Tak heran, sekali tekan dijamin kabupaten Kaleyen hilang dari peta.
Sepertinya gambaran peta itu mewakili karakter warganya yang senewen, tidak patut diperhitungkan. Tidak termasuk aku, yang baik, cerdas dan tidak ambisius. Lihat saja bagaimana warga Kaleyen memilih pemimpin, misalnya anggota dewan. Jelani seorang legislator negeri itu dalam dua periode terpilih dengan cara yang samasekali tak terlintas di angan-angan.
Lima tahun lalu, lampu mati. Nyala puntung rokok sementara menjadi penyelamat beratnya beban PLN atas nama krisis listrik. Lima orang pria utama di desa ini sedang berkumpul di lapau kopi.
Mesti tak kelihatan, aku yakin semua mata mengarah kepada Jelani Syekali. Satu keahlian baru yang diperoleh Jelani setelah menjadi anggota DPRD adalah mengucapkan kalimat “SEBAGAI LEGISLATOR, AKU....”. Oleh karena kakobeh (kelatahan) itu akhirnya ia kami juluki Legislator Jelani.
Jelani adalah tokoh nyata dan benar-benar ada, senyata gelap saat ini. Pemilu esok ia berniat mencalonkan diri lagi di DPRD Kabupaten.
“Lampu mati, PLN mengehemat energi,” kata Jelani.
‘Heh...”, dengus entah siapa.
“Ya, betul! 2004 di ambang pintu, jadi semua energi harus dikumpul. Para legislator mesti manggung dan di mana-mana butuh listrik,” kataku.
Semua tertawa. Anda boleh bayangkan bagaimana suasananya. Aku memang sedang menyindir Jelani. Sudah empat tahun ia menjadi legislator, tapi tak sedikitpun posisi itu dapat mengangkat wibawanya. Setidaknya dari desa ini, tempat di mana tali pusarnya di tanam sekitar empat puluh tahun yang lalu.
“Sudahlah, jangan terus menyindir. Setidaknya kalian boleh berbangga, satu-satunya putra desa ini ada yang menjadi orang di ibukota kabupaten!” Jelani membela diri.
“Satu-satunya...”
“Menjadi orang bego di tengah para koruptor!”
“Ha...ha...ha...” tawa pecah seperti kaca. Ramai berderai-derai.
Begitulah, seperti biasa Jelani boleh kesal. Namun kami teman sepermainan Jelani melewatkan begitu saja kekesalannya. Wajahnya yang sebenarnya ganteng itu terlalu sayang dibiarkan tanpa celaan. Tak boleh ada yang sempurna.
“Kalian boleh mencela, aku tidak seperti mereka, korupsi memperkaya diri!” Jelani bersungut-sungut.
“Apa bedanya? Kau juga korupsi. Setidaknya mencuri waktu setiap hari Rabu, saat pasar ramai berjual beli!”
“Ha...ha...ha...”
“Tetapi tidak dagang suara ‘kan?”
“Sama saja, kau jual suaramu pada koruptor. Bukankah setiap rapat yang hari Rabu kau selalu bilang setuju apapun keputusan sidang? Dan tahukah kau sidang itu memutuskan ramai-ramai korupsi. Berarti kau setuju juga ‘kan?”
“Ha...ha...ha...”
“Hhhh“ Jelani menghela nafas
Nasib baik memang berpihak kepadanya. Dengan wajah tampannya ia dengan mudah dikenal oleh warga sekecamatan. Ditunjang oleh profesinya yang memang ‘wah’, pedagang kain keliling yang mengandalkan mobil pick-up bak terbuka. Dengan itulah ia berjaja, dari pekan ke pekan, dari keramaian ke keramaian. Final di pasar kecamatan, di sebuah toko pakaian miliknya sendiri.
Ibu-ibu rumah tangga senang kepadanya. Selain wajah yang cemerlang, dia bersedia memberi hutang pada ibu-ibu yang memang tak punya uang. Dengan suka rela pula ia bertandang dari satu rumah ke rumah yang lain menagih hutang. Singkat kata, Jelani terkenal di seluruh kecamatan.
Lagi-lagi nasib baik selalu mendekat kepadanya. Enam tahun yang lalu, ia diberi amanah atau lebih tepatnya dibujuk menjadi sekretaris partai politik. Sebutlah partai kain sarung. Jargon utama partai itu memang menggairahkan usaha kecil menengah.
Begitu bujukan diterima, Jelani langsung menyulap sepetak dari tokonya menjadi sekretariat partai. Plang merek partai serta sejumlah umbul-umbul begitu saja berkibar-kibar menutup merek toko Jelani yang bertajuk “X Fashion: menjual aneka pakaian, dari luar hingga ke dalam.”
Saat pemilu legislatif, Jelani berhasil memenangkan satu kursi. Aku mengira itu tidak lebih karena popularitas. Betapa tidak, ada beberapa calon lain yang diusung partai kain sarung. Semuanya tidak dikenal dengan baik. Ada yang sarjana lulusan kota Kaleyen. Orang-orang menolak memilihnya. Ah, sarjana pengangguran, tahu apa dia? Periuk emaknya saja belum tentu berasap.
Ada juga mantan pegawai kantor bupati. Sedikit terkenal, tetapi orang menganggapnya bercanda. Di kantornya, tak sekalipun ia memegang jabatan. Berarti ia bukan siapa-siapa. Ah, dia memang bercanda.
Ada juga bekas tentara. Tetapi selalu saja ada kekurangannya. Menurut warga se kecamatan ini, beberapa waktu ia ngantor koramil, tidak ada yang patut dicatat sebagai hasil. Berkali-kali ia ketahuan membeking judi togel.
Nah, selain yang tidak dikenal, tinggalah Jelani. Sebagai rakyat biasa yang beprofesi sebagai pedagang, ia sepertinya pantas dipilih. Tak ada cacat yang berkesan di ingatan. Orangnya tampan, baik dan tidak sombong. Siapapun yang sempat lewat di depan tokonya, selalu diajak mampir. Kalau tidak mandi cuci muka. Kalau tidak beli, lihat saja. Atau, kalau tidak perawan boleh janda kembang. Kalau tidak kontan, boleh hutang. Ramah, ‘kan?
Setiap kampanye, tak sekalipun Jelani berpidato. Dengan baju terbaiknya ia hanya tampil sebagai pembawa acara dengan orasi seadanya. Pada waktu itu ia berbicara:
“Saudara-saudara, sebagai calon anggota dewan dari partai kain sarung, saya ingin memperkenalkan beberapa teman. Mereka akan berbicara panjang lebar, tentang apa yang akan kami kerjakan bila mana terpilih sebagai anggota dewan. Silakan tuan!”
Itu saja, dan selalu itu saja.
Akhirnya Jelani terpilih sebagai calon nomor satu. Menjadi anggota legislatif dengan berjubel hak yang melekat pada statusnya sesuai dengan undang-undang.
Adakah Jelani jadi orang terpandang? Tidak. Terakhir aku tertawa terkikik-kikik. Pak Bupati datang ke desa kami sembari menitipkan sedikit buah tangan untuk membangun jembatan.
Seperti layaknya pejabat pak bupati memberi penghormatan kepada petinggi desa. Salah satunya kepada Jelani, petinggi setempat sekaligus anggota dewan yang terhormat. Dalam sapaannya kepada Jelani, pak bupati menanyakan, “Yth bapak Jelani, bagaimana usaha tokonya, apakah lancar-lancar saja”. Tak kalah fasihnya, Jelani sigap menjawab, “Alhamdulillah usaha semakin berkembang pak!”
Sebagai anggota dewan mestinya ia malu ditanya begitu. Pak Bupati memang arif, sangat bia membuat pertanyaan yang sesuai dengan kemampuan otak dan pengalaman orang. Buktinya tidak sedikitpun Jelani gagap menjawabnya.
Lampu belum juga menyala. Cahaya lilin berpilin-piln ditiup angin. Mulai saat ini ada baiknya PLN dijuluki perusahaan lilin negara. Semakin terang dunia semakin habis bahan bakarnya. Tinggal sumbu yang menciut hingga ke pangkal.
Jelani, mulai enggan diperolokkan. Ia berniat hendak pulang. Sebelum pulang ia meninggalkan keinginan:
“Sekarang, coba kalian pikirkan, bagaimana agar aku terpilih lagi!”
Kami semua bertukar pandang, sebelum sepakat dengan satu suara; suara tawa!
“Ha...ha...ha...!!!”
***
Celaka atau bahagia, ya? Pemilu 2004, Jelani menang lagi. Sepertinya warga kecamatan ini mulai pendek ingatannya. Ingatan warga mungkin terbatas pada, toko pakaian, kebaikan dan baju kreditan khas Jelani.
Anda mungkin masih ingat ceritaku tentang kunjungan bupati ke desaku. Pada waktu itu bupati menanyakan perkembangan usaha Jelani. Memang begitulah adanya Jelani . Meskipun mejadi anggota ‘dewan’ - begitu kami menyebut para legislator -, tak sekalipun ia absen berdagang pakaian. Kasarnya, Jelani hanya datang di saat sidang, kecuali sidang-sidang di hari Rabu.
Tak heran usahanya semakin lama semakin berkembang, dengan usaha yang keras membanting tulang. Terakhir ia menerima penghargaan sebagai sosok usahawan yang sukses di bidang usaha kecil dan menengah. Di saat para anggota dewan yang lain sibuk berpidato tengan kredit pertanian, ia sudah melakukan kredit pakaian dengan angsuran ringan.
Pada hari di mana aku bersua dengan legislator langka itu, aku bertanya:
“Selamat Jelani. Aku cuma mau bertanya, apa yang engkau lakukan? Begitu jinaknya warga Kaleyen, ataukah buta, mudah saja engkau terpilih sebagai anggota dewan,” tanyaku seadanya.
“Ah, biasa saja,” katanya. Tangannya masih sibuk membetulkan kancing safari baru yang sengaja dipesan untuk pelantikan. Tak lama ia melanjutkan:
“Barangklai karena ‘X Fashion’ inilah. Semakin berkembang usaha pakaianku semakin banyak simpatisan.”
“Meski mangkir dari sidang?” sindirku.
“Entahlah. Setidaknya suara korupsi lebih nyaring,” jawabnya datar.
“O, ya?”
“Atau karena aku tidak populer di ruang sidang, tidak sekalipun aku masuk koran”
“Hekk!!!”
“Aku selalu memberi bukti tidak hanya janji! Ini...,” katanya seraya menyodorkan Mp3.
Ya ampun, keren juga orang tenggen ini. MP3 keluaran terbaru. Bisa menyanyi, merekam dan entah apa lagi.
“Ayo, Putar!” pintanya.
Tak jua aku putar MP3 itu. Bukan apa-apa, aku tak mengerti caranya. Jelani berbaik hati membantu. Dari pengeras suara benda ajaib itu terdengar:
“Saudara-saudara, sebagai calon anggota dewan dari partai kain sarung, saya ingin memperkenalkan beberapa teman. Mereka akan berbicara panjang lebar, tentang apa yang akan kami kerjakan bila mana terpilih sebagai anggota dewan. Silakan tuan!”
Itu suara Jelani waktu kampanye dulu. Jelani tak pernah berjanji apa-apa. Kecuali hanya memberi sangkutan tentang ‘apa yang akan ia kerjakan bila mana terpilih sebagai anggota dewan.’ Aku menemukan jawabannya; J-U-A-L-A-N!
Aku dan semua warga kabupaten memang senewen. Lain halnya Jelani, usahanya semakin lancar tanpa hambatan, ibarat menghasta kain sarung, tanpa ujung. Pas dengan nama partainya, partai kain sarung.
Pemilu 2009 aku dengar Jelani ingin mencalonkan diri di tingkat propinsi. Sekiranya itu benar, setidaknya aku wajib menyarankan agar ia belajar berpidato. Dengan begitu, mudah-mudahan ia tersandung.
***
Padang 1999-2008,
Ingatan yang melelahkan
Kota Kaleyen adalah kota cebol, sekaligus ibukota kabupaten yang namanya kebetulan sama; Kaleyen juga. Kabupaten Kaleyen. Ibukota Kaleyen. Begitulah. Di peta propinsi, luasnya tidak lebih se ibu jari. Tak heran, sekali tekan dijamin kabupaten Kaleyen hilang dari peta.
Sepertinya gambaran peta itu mewakili karakter warganya yang senewen, tidak patut diperhitungkan. Tidak termasuk aku, yang baik, cerdas dan tidak ambisius. Lihat saja bagaimana warga Kaleyen memilih pemimpin, misalnya anggota dewan. Jelani seorang legislator negeri itu dalam dua periode terpilih dengan cara yang samasekali tak terlintas di angan-angan.
Lima tahun lalu, lampu mati. Nyala puntung rokok sementara menjadi penyelamat beratnya beban PLN atas nama krisis listrik. Lima orang pria utama di desa ini sedang berkumpul di lapau kopi.
Mesti tak kelihatan, aku yakin semua mata mengarah kepada Jelani Syekali. Satu keahlian baru yang diperoleh Jelani setelah menjadi anggota DPRD adalah mengucapkan kalimat “SEBAGAI LEGISLATOR, AKU....”. Oleh karena kakobeh (kelatahan) itu akhirnya ia kami juluki Legislator Jelani.
Jelani adalah tokoh nyata dan benar-benar ada, senyata gelap saat ini. Pemilu esok ia berniat mencalonkan diri lagi di DPRD Kabupaten.
“Lampu mati, PLN mengehemat energi,” kata Jelani.
‘Heh...”, dengus entah siapa.
“Ya, betul! 2004 di ambang pintu, jadi semua energi harus dikumpul. Para legislator mesti manggung dan di mana-mana butuh listrik,” kataku.
Semua tertawa. Anda boleh bayangkan bagaimana suasananya. Aku memang sedang menyindir Jelani. Sudah empat tahun ia menjadi legislator, tapi tak sedikitpun posisi itu dapat mengangkat wibawanya. Setidaknya dari desa ini, tempat di mana tali pusarnya di tanam sekitar empat puluh tahun yang lalu.
“Sudahlah, jangan terus menyindir. Setidaknya kalian boleh berbangga, satu-satunya putra desa ini ada yang menjadi orang di ibukota kabupaten!” Jelani membela diri.
“Satu-satunya...”
“Menjadi orang bego di tengah para koruptor!”
“Ha...ha...ha...” tawa pecah seperti kaca. Ramai berderai-derai.
Begitulah, seperti biasa Jelani boleh kesal. Namun kami teman sepermainan Jelani melewatkan begitu saja kekesalannya. Wajahnya yang sebenarnya ganteng itu terlalu sayang dibiarkan tanpa celaan. Tak boleh ada yang sempurna.
“Kalian boleh mencela, aku tidak seperti mereka, korupsi memperkaya diri!” Jelani bersungut-sungut.
“Apa bedanya? Kau juga korupsi. Setidaknya mencuri waktu setiap hari Rabu, saat pasar ramai berjual beli!”
“Ha...ha...ha...”
“Tetapi tidak dagang suara ‘kan?”
“Sama saja, kau jual suaramu pada koruptor. Bukankah setiap rapat yang hari Rabu kau selalu bilang setuju apapun keputusan sidang? Dan tahukah kau sidang itu memutuskan ramai-ramai korupsi. Berarti kau setuju juga ‘kan?”
“Ha...ha...ha...”
“Hhhh“ Jelani menghela nafas
Nasib baik memang berpihak kepadanya. Dengan wajah tampannya ia dengan mudah dikenal oleh warga sekecamatan. Ditunjang oleh profesinya yang memang ‘wah’, pedagang kain keliling yang mengandalkan mobil pick-up bak terbuka. Dengan itulah ia berjaja, dari pekan ke pekan, dari keramaian ke keramaian. Final di pasar kecamatan, di sebuah toko pakaian miliknya sendiri.
Ibu-ibu rumah tangga senang kepadanya. Selain wajah yang cemerlang, dia bersedia memberi hutang pada ibu-ibu yang memang tak punya uang. Dengan suka rela pula ia bertandang dari satu rumah ke rumah yang lain menagih hutang. Singkat kata, Jelani terkenal di seluruh kecamatan.
Lagi-lagi nasib baik selalu mendekat kepadanya. Enam tahun yang lalu, ia diberi amanah atau lebih tepatnya dibujuk menjadi sekretaris partai politik. Sebutlah partai kain sarung. Jargon utama partai itu memang menggairahkan usaha kecil menengah.
Begitu bujukan diterima, Jelani langsung menyulap sepetak dari tokonya menjadi sekretariat partai. Plang merek partai serta sejumlah umbul-umbul begitu saja berkibar-kibar menutup merek toko Jelani yang bertajuk “X Fashion: menjual aneka pakaian, dari luar hingga ke dalam.”
Saat pemilu legislatif, Jelani berhasil memenangkan satu kursi. Aku mengira itu tidak lebih karena popularitas. Betapa tidak, ada beberapa calon lain yang diusung partai kain sarung. Semuanya tidak dikenal dengan baik. Ada yang sarjana lulusan kota Kaleyen. Orang-orang menolak memilihnya. Ah, sarjana pengangguran, tahu apa dia? Periuk emaknya saja belum tentu berasap.
Ada juga mantan pegawai kantor bupati. Sedikit terkenal, tetapi orang menganggapnya bercanda. Di kantornya, tak sekalipun ia memegang jabatan. Berarti ia bukan siapa-siapa. Ah, dia memang bercanda.
Ada juga bekas tentara. Tetapi selalu saja ada kekurangannya. Menurut warga se kecamatan ini, beberapa waktu ia ngantor koramil, tidak ada yang patut dicatat sebagai hasil. Berkali-kali ia ketahuan membeking judi togel.
Nah, selain yang tidak dikenal, tinggalah Jelani. Sebagai rakyat biasa yang beprofesi sebagai pedagang, ia sepertinya pantas dipilih. Tak ada cacat yang berkesan di ingatan. Orangnya tampan, baik dan tidak sombong. Siapapun yang sempat lewat di depan tokonya, selalu diajak mampir. Kalau tidak mandi cuci muka. Kalau tidak beli, lihat saja. Atau, kalau tidak perawan boleh janda kembang. Kalau tidak kontan, boleh hutang. Ramah, ‘kan?
Setiap kampanye, tak sekalipun Jelani berpidato. Dengan baju terbaiknya ia hanya tampil sebagai pembawa acara dengan orasi seadanya. Pada waktu itu ia berbicara:
“Saudara-saudara, sebagai calon anggota dewan dari partai kain sarung, saya ingin memperkenalkan beberapa teman. Mereka akan berbicara panjang lebar, tentang apa yang akan kami kerjakan bila mana terpilih sebagai anggota dewan. Silakan tuan!”
Itu saja, dan selalu itu saja.
Akhirnya Jelani terpilih sebagai calon nomor satu. Menjadi anggota legislatif dengan berjubel hak yang melekat pada statusnya sesuai dengan undang-undang.
Adakah Jelani jadi orang terpandang? Tidak. Terakhir aku tertawa terkikik-kikik. Pak Bupati datang ke desa kami sembari menitipkan sedikit buah tangan untuk membangun jembatan.
Seperti layaknya pejabat pak bupati memberi penghormatan kepada petinggi desa. Salah satunya kepada Jelani, petinggi setempat sekaligus anggota dewan yang terhormat. Dalam sapaannya kepada Jelani, pak bupati menanyakan, “Yth bapak Jelani, bagaimana usaha tokonya, apakah lancar-lancar saja”. Tak kalah fasihnya, Jelani sigap menjawab, “Alhamdulillah usaha semakin berkembang pak!”
Sebagai anggota dewan mestinya ia malu ditanya begitu. Pak Bupati memang arif, sangat bia membuat pertanyaan yang sesuai dengan kemampuan otak dan pengalaman orang. Buktinya tidak sedikitpun Jelani gagap menjawabnya.
Lampu belum juga menyala. Cahaya lilin berpilin-piln ditiup angin. Mulai saat ini ada baiknya PLN dijuluki perusahaan lilin negara. Semakin terang dunia semakin habis bahan bakarnya. Tinggal sumbu yang menciut hingga ke pangkal.
Jelani, mulai enggan diperolokkan. Ia berniat hendak pulang. Sebelum pulang ia meninggalkan keinginan:
“Sekarang, coba kalian pikirkan, bagaimana agar aku terpilih lagi!”
Kami semua bertukar pandang, sebelum sepakat dengan satu suara; suara tawa!
“Ha...ha...ha...!!!”
***
Celaka atau bahagia, ya? Pemilu 2004, Jelani menang lagi. Sepertinya warga kecamatan ini mulai pendek ingatannya. Ingatan warga mungkin terbatas pada, toko pakaian, kebaikan dan baju kreditan khas Jelani.
Anda mungkin masih ingat ceritaku tentang kunjungan bupati ke desaku. Pada waktu itu bupati menanyakan perkembangan usaha Jelani. Memang begitulah adanya Jelani . Meskipun mejadi anggota ‘dewan’ - begitu kami menyebut para legislator -, tak sekalipun ia absen berdagang pakaian. Kasarnya, Jelani hanya datang di saat sidang, kecuali sidang-sidang di hari Rabu.
Tak heran usahanya semakin lama semakin berkembang, dengan usaha yang keras membanting tulang. Terakhir ia menerima penghargaan sebagai sosok usahawan yang sukses di bidang usaha kecil dan menengah. Di saat para anggota dewan yang lain sibuk berpidato tengan kredit pertanian, ia sudah melakukan kredit pakaian dengan angsuran ringan.
Pada hari di mana aku bersua dengan legislator langka itu, aku bertanya:
“Selamat Jelani. Aku cuma mau bertanya, apa yang engkau lakukan? Begitu jinaknya warga Kaleyen, ataukah buta, mudah saja engkau terpilih sebagai anggota dewan,” tanyaku seadanya.
“Ah, biasa saja,” katanya. Tangannya masih sibuk membetulkan kancing safari baru yang sengaja dipesan untuk pelantikan. Tak lama ia melanjutkan:
“Barangklai karena ‘X Fashion’ inilah. Semakin berkembang usaha pakaianku semakin banyak simpatisan.”
“Meski mangkir dari sidang?” sindirku.
“Entahlah. Setidaknya suara korupsi lebih nyaring,” jawabnya datar.
“O, ya?”
“Atau karena aku tidak populer di ruang sidang, tidak sekalipun aku masuk koran”
“Hekk!!!”
“Aku selalu memberi bukti tidak hanya janji! Ini...,” katanya seraya menyodorkan Mp3.
Ya ampun, keren juga orang tenggen ini. MP3 keluaran terbaru. Bisa menyanyi, merekam dan entah apa lagi.
“Ayo, Putar!” pintanya.
Tak jua aku putar MP3 itu. Bukan apa-apa, aku tak mengerti caranya. Jelani berbaik hati membantu. Dari pengeras suara benda ajaib itu terdengar:
“Saudara-saudara, sebagai calon anggota dewan dari partai kain sarung, saya ingin memperkenalkan beberapa teman. Mereka akan berbicara panjang lebar, tentang apa yang akan kami kerjakan bila mana terpilih sebagai anggota dewan. Silakan tuan!”
Itu suara Jelani waktu kampanye dulu. Jelani tak pernah berjanji apa-apa. Kecuali hanya memberi sangkutan tentang ‘apa yang akan ia kerjakan bila mana terpilih sebagai anggota dewan.’ Aku menemukan jawabannya; J-U-A-L-A-N!
Aku dan semua warga kabupaten memang senewen. Lain halnya Jelani, usahanya semakin lancar tanpa hambatan, ibarat menghasta kain sarung, tanpa ujung. Pas dengan nama partainya, partai kain sarung.
Pemilu 2009 aku dengar Jelani ingin mencalonkan diri di tingkat propinsi. Sekiranya itu benar, setidaknya aku wajib menyarankan agar ia belajar berpidato. Dengan begitu, mudah-mudahan ia tersandung.
***
Padang 1999-2008,
Ingatan yang melelahkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar