17 Juli 2008

Lasykar Setan

Cerpen: Muhammad Nasir

Malam yang kelam semakin norak. Sehabis hujan sore, semua yang berbunyi aktualisasi diri. Utamanya tentang suara-suara yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Tetapi ada juga yang yang melantunkan nada yang aku yakin ia sendiri tidak begitu paham artinya. Seperti orang mimpi. Di samping itu ada juga bunyi-bunyi yang tak paham situasi. Asal bunyi.

Bunyi-bunyian itu semakin congkak. Terutama katak, ngakak terbahak-bahak. Pantas saja Musailamah pria mendaku nabi di zaman kejayaan Arab Islam itu terobsesi membuat apa yang ia sebut ayat. Hai katak anak katak. Bersihkan apa yang mesti engkau bersihkan. Di atasmu; di atas air dan di bawahmu; di dalam tanah! Nah...katak, berdendanglah.

Sedikit yang tidak terusik, para penghuni rumah petak. Mereka juga sibuk dengan bebunyiannya sendiri. Ada empat petak ukuran empat kali enam. Masing-masing petak berhak atas satu kamar tidur dan sedikit tempat yang kadang dianggap ruang serbaguna. Satu petak tentu saja kerajaanku.

Rumah petakku jangan disebut. Sementara aku anggap sebagai petak terbaik, nomor satu. Diisi oleh seorang intelektual jebolan magister filsafat, mantan aktivis mahasiswa, penikmat sastra, penulis beken dan pembicara di berbagai seminar simposium. Ya, itu aku Aqilani, artinya dua orang berakal. Siapa itu? Pertama aku, yang kedua aku sendiri. Aqilani ini sang pencandu bola. Mirip sedikit dengan pemain bola Aquillani. Dari nama bolehlah.

Bergeser ke kamar kiri, nomor dua, Khalid Baidlowi mahasiswa pascasarjana semester tiga. Pria muda, katakanlah penggemarku, karena di mana-mana aku dengar jika berbicara ia selalu berusaha mengkaitkan pendapatnya dengan aku. Misalnya, ‘menurut bang Aqilani... bla...bla...”. Entah bagaimana pria dari Jakarta yang mengaku orang Betawi asli plus sedikit darah Arab dari garis kakek ini bisa indekos dekat rumahku.

Lalu petak ke tiga, Jekli Ferdana, mahasiswa semester akhir jurusan ekonomi pembangunan. Entah mengapa ibunya memberi nama seperti itu. Mungkin saja ibunya atau bapak atau siapa saja yang dekat dengan keluarganya punya feeling dengan dunia modern. Jika memang modern nama bujang itu mestinya Jackly F(P)erdana. Tapi persetan soal nama kata Shakespeare, Jekli atau Jek itu orangnya sedikit alim. Ukuran alim, nanti sajalah.

Lalu yang terakhir Sahat. Sahat saja, lima karakter ketikan, tanpa last name. Orangnya cerdas dan lucu. Kelucuan pertama terletak pada namanya. “Apa kabar Sahat? Sahat-sahat saja,” katanya. Dan aku memang paling suka dengan bujang pulau Mentawai ini. Ceria dan memecahkan masalah, terutama masalah konsumsi. Hampir setiap pulang kampung ia memanggul hasil ladang dari pelabuhan menuju tempat kos, tanpa malu-malu. Oh, Sahat temanku pencandu bola. Senja ini ia sudah tertidur di kamarku. Katanya, numpang nonton final Piala Eropa. Sip!

Empat lakon sudah disebut satu persatu. Mudah-mudahan aku tidak subjektif, membeberkan Curriculum Vitae aku dan sebut saja three musketeers tetanggaku berdasarkan suasana hati, like and dislike. Yang jelas tuhan telah membantu memilah umatnya berdasarkan petak rumah. Dan sepertinya tuhan mengerti bahwa setiap petak rumah ini mewakili kelas dan kaliber penghuninya.

Bunyi-bunyian itu makin marak. Di tengah pluralnya penghuni kamar, alam sepertinya tak sedikitpun menciptakan harmoni. 

Suara televisi menggelegar mengalahkan desiran air bandar yang mengalir lancar. Menyuarakan suasana Jakarta yang banjir besar. 

“Banjir lagi! Apa Jakarta tak lagi berpori-pori?” Itu suara Khalid si Betawi. Tampaknya ia mulai teringat kampung halaman. Padang tempat ia mengeram tidak begitu saja menghapus kenangan akan kotanya rawan karam. Mungkin ingatannya masih tersambung ke kampung halaman karena satu alasan; kiriman. Uang saku selalu menjadi sel-sel aktif yang menghubungkannya dengan Jakarta.

Suara televisi ditingkahi suara Khalid yang mulai menelpon ke Jakarta.

 “Gimana rumah kite ‘Nyak? Babe siape yang ngangkut? Lalu gimana...gimana...Ntar kalo gini gimana?” 

Gila, semua itu dituturkan dengan suara keras. Suara Khalid yang keras menghempas ke urat gigi. Ngilu hingga ke gusi.

Kamar satu memang sakit gigi. Tiga malam terakhir berturut-turut asap mondar mandir dari mulut ini. Berikut kopi panas, segala minuman manis masuk tanpa kontrol. Alhasil, badan runtuh ripuk panas dingin. Semua itu bermuara pada acara symposium nasional kerukunan kebangsaan.

Bangsa ini perlu diselamatkan. Setiap orang harus mengingat lagi dalam-dalam mengapa bangsa ini ada. Untuk apa bangsa ini dimerdekakan dan bagaimana bangsa ini harus diurus. Begitu di antara tema-tema yang hangat dibicarakan. Hasilnya mengecewakan, satu kesimpulan memang berhasil dituntaskan. Hanya saja bagiku itu cuma satu slogan. Masak jauh-jauh berdatangan, hasilnya cuma frasa “Selamatkan Indonesia”. Anak kecil juga tahu. Itulah yang juga membuat aku semakin sakit gigi.

“Hey, suaramu! Aku sedang mengaji!” Itu dari kamar tiga.

“Persetan, rumahku kebanjiran!”

“Justru aku mengusir setan!”

 Kamar tiga melanjutkan bacaan. Sesekali berhenti mengaji dan mengumpat ke kamar dua dengan mengutip hadis ”apabila dibacakan Qur’an dengarkan.” Lantunan ayat al-Qur’an berbenturan dengan percakapan keprihatinan. Suasana crowded. Tak hanya katak, jengkrik, nyamuk dan burung hantu juga ikut melantunkan nada sophran.

Kamar satu masih diam. Aku mencoba menggenggam apa saja. Menahan perasaian dan perasaan. Sebagai yang dituakan aku berusaha menahan diri, minimal tidak ikut menambah keruwetan. Suasana di sini memang lagi runyam. Setidaknya itu aku rasakan di kamarku.

Brakk!!!

Apa lagi ini. Kepalaku rengkah. Urat gigi menjalar menuju otak. Menarik apa saja urat-urat kecil di bongkahan kepala. Aku tidak bisa lagi berpikir. Sekejap saja sakitnya berpindah ke hati. Inilah yang namanya santet. Dua kamar di sebelah telah melakukan ritual setan. Dari jauh mereka telah menyakitiku.

“Apa lu bilang? Lu bilang keluarga gua setan?” 

Dahsyat, ada logat Betawi. Biasanya situasi sedang runyam. Ternyata Khalid telah selesai menelpon. Satu gebrakan di pintu telah menghantarkan tangan kirinya ke krah baju Jek yang termangu. Khalid siap meninju.

“Bukan, maksudku kau menelpon terlalu keras. Suaramu mengganggu konsentrasiku.” Jek membela diri.

“Tapi ‘lu bilang mengusir setan? Gua tersinggung, Tauuk!

“Kau yang bilang duluan”

Aku menggeram. Di manapun kau berada, kuberitahukan bahwa itu pertengkaran. Dan pertengkaran itu di mana-mana memakan korban. Terutama saat ini aku! Tak laku lagu “dari pada sakit hati, lebih baik sakit gigi”. Pertempuran di sebelah terus berkecamuk.

“Lutak gak punya perasaan ye, kampung gua kebanjiran, tauuk!”

“Iya, tapi aku sudah toleran. TV mu kau setel keras-keras, aku diam. Lalu kau telpon-telponan!”

“Meneketehe’, gua punya alasan. Gua nonton berita, ‘lu juga ngaji keras-keras!”

“Biasa juga begitu. Apa masalahnya?”

“Justru ini tidak biasa. Jakarta kebanjiran. Itu masalah rumah dan keluarga gua, tauuk!”

“Jakarta kebanjiran? Ha...ha...ha...biasa ‘kan?”

“Setan!”

“Apa?”

“Persetan!, jangan coba-coba bangkitkan setanku”

“Itu masalahnya! Kau bawa-bawa nama setan. Aku mengaji kau bilang persetan.”

“Lha, itu juga masalahnya, ‘Lu bilang mengusir setan. Setan sok alim, ‘lu!”

“Kau yang setan!”

“Setan!”

“Setan!”

Setan berbalas balasan. Sepertinya tak ada yang mau didaku setan. Dan sepertinya aku, jagoan kamar satu yang harus memvonis mereka. Kepalaku berdenyutan. Nampaknya setan juga sudah mulai bergelayutan. Tanpa dapat ditahan, spontan aku mengumpat;

“SYAYTHAAOOOOOOON...!!!”

Nah, itu ungkapan yang paling faseh, langsung dengan lahjah Arab. Syin-Ya-Tha’-Alif-Nun. Syaythan! Aku yakin setan yang sebenarnya pasti terpana. Jarang-jarang orang Indonesia dengan fasih mengucap namanya. Barangkali ada juga, trah ustadz, qori’ dan qori’ah atau Arab keturunan. Kecuali Khalid.

Flippp!

Mendadak lampu mati. Tak ada lagi umpatan setan menyetankan. Bahkan suara manusiapun tidak. Sesaat malam kembali menjadi milik katak. Wredeg...wredek dan ragam bunyi lainnya mengalir begitu saja dari leher-leher gempor sang katak. Jengkerik mengerik seolah menarik beban yang berat.

Lega. Sesaat aku lega. Seiring satu tarikan napas, aku berpikir untuk melerai pertarungan setan menyetankan itu. Kuraba setiap jengkal dinding dengan tangan yang tak jua hapal letak hendel pintu. Denyut kembali hadir di sela-sela gigi. Tak kuhiraukan lagi, yang jelas suara-suara setan itu sudah berhenti. Dan...

“SSSYEETAAN!!!”

Dan...aku terperanjat. Sahat. Aku hampir saja melupakan budak yang pulas di ranjangku. Tetapi kehadirannya bersama “setan” kembali menonjok urat gigi. Sepertinya tak ada lagi dunia. Mendadak bintang kecil menghiasi malam, sampai semuanya kelam.

Sungguh! Lima menit aku tak tahu apa-apa. Begitu sadar aku dengar Three musketeers itu terlibat debat ringan. Sepertinya suasana mulai reda. Langit mulai terbuka. Satu persatu bintang menampakkan wujudnya. Aku mendatangi mereka.

“Hey, kalian! Ada apa?” tanyaku.

“Khalid...”

“Bukan! Jekli, Bang...”

“Setan? Iya kan?” Dan kau, Sahat?”

“Aku mimpi”

“Maksudku, apa kalian tidak bisa menjaga ketertiban. Apa kalian tak mengerti, aku lagi sakit gigi, heh!”

“Tapi semua terjadi begitu saja, bang” Jek membela diri.

“Lha, dia yang tidak bisa memahami situasi. Mengaji sambil mengumpat,” Khalid tak mau kalah.

“Bukan, kalian berdua keterlaluan. Aku sudah menahan diri. Terutama menahan sakit gigi. Tapi kalian berdua malah kesetanan.” Benar! Aku lupa sakit gigi. Aku leluasa memaki.

“Jek yang pertama membangkitkan setanku!”

“Stop”

“Lha, setan dibangkit-bangkitkan. Apa kau memelihara setan, Khalid?. He, he,” Sahat cengengesan.

“Hey, kau sendiri Sahat, setan apa pula yang kau panggil?”

“Aku mimpi bang. Mentawai karam. Gelombang menggulung seluruh Laggai , semua pribumi mati dengan wajah yang mengerikan. Orang-orang ramai menyebut setan. Sampai satu sosok menyeramkan bangkit dalam kegelapan. Aku ketakutan dan berteriak, “SSSYEETAAN!!!”

Sialan. Mata Sahat mengarah padaku.

“Hey, itu aku. Kau bilang aku setan?” Aku nyaris tertawa. Mestinya aku marah, dasar Sahat...

“Abang sendiri, setan jenis apa pula yang abang panggil?” tanya Khalid

“Sejenis kalian, atau mungkin kalian!”

Ternyata setan bisa muncul begitu saja. Pada orang yang sakit gigi, korban kebanjiran, orang mengaji dan orang mimpi. Dan setan itu keluar dari mulut orang. Terutama dari mulut orang Indonesia yang lahir dari mitos dan hantu-hantu.

Tidak ada lagi bunyi-bunyian. Katak sudah terdiam, langit makin terbuka. Perlahan-lahan bulan muncul di ketiak cemara. Aku yang pada dasarnya takut pada yang ghaib-ghaib, khawatir jangan-jangan ada penampakan setan betulan. Lampu masih padam.

NGIAUWWW!!!

“Jangan-jangan itu setan!” 

“Lewat mulut kucing!”
Parak Jigarang, 29 Juni 2008
 


Tidak ada komentar: